Tampilkan postingan dengan label bintang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bintang. Tampilkan semua postingan
Superwind, Penyebab Matinya Bintang
Astronom di The University of Manchester telah menemukan teori dari superwind yang menyebabkan bintang mati. Dengan menggunakan Very Large Telescope (VLT) di Chile, penelitian yang dipimpin oleh Barnaby Norris dari University of Sydney dapat melihat ke dalam atmosfer bintang yang tengah sekarat.
Bintang seperti Matahari mengakhiri hidup mereka dengan superwind
yang berkekuatan 100 juta kali dibandingkan dengan angin Matahari.
Angin ini terjadi selama 10.000 tahun dan memusnahkan setengah dari
total massa sebuah bintang. Setelah 10.000 tahun, superwind akan meninggalkan bintang yang sekarat tersebut.
Penyebab terjadinya superwind ini masihlah misteri, namun
peneliti sekarang menyebutkan bahwa peristiwa ini tercipta karena debu
yang terbentuk di atmosfer bintang. Cahaya bintang mendorong debu untuk
menjauh dan akhirnya keluar dari atmosfer. Akan tetapi, teori ini
dipentalkan oleh mekanisme yang bertolak belakang.
Mekanisme sebelumnya menyebutkan bahwa debu tidak akan keluar dari
bintang, namun menguap di atmosfer VLT telah menunjukkan hasil yang
berbeda. Ternyata, debu yang ada di bintang memiliki karakter seperti
cermin yang merefleksikan cahaya, bukan menyerapnya. Hal inilah yang
membuat debu-debu tersebut terdorong keluar bintang dan menyebabkan superwind.
Terbuangnya debu ke luar atmosfer memberikan efek seperti badai pasir. Profesor Albert Zijlstra dari University of Manchester mengatakan bahwa inilah pertama kalinya kami mengerti bagaimana superwind terbentuk. "Debu dan pasir dari superwind akan selamat dan membentuk bintang yang baru," jelasnya.
NASA Memecah Misteri Supernova Berusia 2.000 Tahun
Teleskop NASA Spitzer dan Wide-field Infrared Survey Explorer atau Wise berhasil memecah misteri supernova berusia 2.000 tahun. Supernova ini bernama RCW 86 dan berlokasi 8.000 tahun cahaya dari bumi.
Memprediksi Kapan Saatnya Bintang Mati
Pengamatan selama tiga tahun terhadap sebuah galaksi bernama Whirlpool berujung pada penemuan mengejutkan. Bahwa sebuah bintang bisa diprediksi kapan akan menemui 'ajalnya'.
Hal ini ditemukan oleh sekelompok ilmuwan setelah mengobservasi salah satu bintang yang mengeluarkan cahaya berkelap-kelip sebelum akhirnya mengeluarkan ledakan super (supernova).
Galaksi Mengubah "Sampah" Menjadi Bintang
Upaya mengubah sampah menjadi barang yang berguna tak cuma dilakukan manusia, tetapi juga galaksi-galaksi di semesta, termasuk Bimasakti.
Demikian kesimpulan Kate Rubin dari Max Planck Institute for Astronomy di Heidelberg, Jerman setelah mengamati 100 galaksi pada jarak 5-8 miliar tahun cahaya dengan Teleskop Keck I di Hawaii.
Hasil pengamatannya menunjukkan bahwa ada 6 galaksi yang menarik kembali gas di ruang angkasa. Material gas yang ditarik semula berasal dari ledakan supernova maupun radiasi bintang.
"Sampah" galaksi yang ditarik kembali tersebut akan diubah menjadi bintang yang sama sekali baru.
Rubin memperkirakan, Bimasakti mengubah material setara dengan massa Matahari untuk menciptakan bintang baru tiap tahun.
Namun, Bimasakti tak punya bahan baku cukup untuk melakukannya selama miliaran tahun sehingga melakukan daur ulang.
Menurut Rubin, jumlah galaksi yang melakukannya sebenarnya lebih banyak. Hanya saja, kesulitan observasi membuat astronom juga sulit memastikannya.
Ia mengatakan, temuan ini bisa menjadi dukungan pada teori daur ulang galaksi.
"Ini kepingan puzzle dan bukti penting bahwa daur ulang kosmos bisa memecahkan misteri bahan baku yang hilang," kata Rubin seperti dikutip Space, Rabu (14/3/2012).
Langganan:
Postingan (Atom)