Tampilkan postingan dengan label penemuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penemuan. Tampilkan semua postingan
Galaksi Terjauh Ditemukan
Astronom dari Jepang mengklaim telah menemukan galaksi terjauh dari
Bumi dengan jarak 12,72 miliar tahun cahaya. Menggunakan teleskop yang
terletak di Hawaii, peneliti mengintip kembali dari titik awal
terjadinya Big Bang miliaran tahun lalu.
“Hal ini menunjukkan bahwa galaksi telah ada pada tahap awal alam
semesta, yaitu sejak 1 hingga 13,7 miliar tahun yang lalu,” ungkap tim
Astronom.
Sebelumnya, peneliti dari NASA telah mengumumkan penemuan galaksi
yang jaraknya 13,1 miliar tahun cahaya. Akan tetapi, menurut peneliti
dari Jepang, hal ini belum dikonfirmasi kebenarannya.
Dengan menggunakan Teleskop Subaru yang terletak di Hawaii, peneliti dari Graduate University of Advanced Studies dan National Astronomical Observatory menemukan cluster galaksi yang diharapkan mampu menjadi petunjuk.
“Kami mengharapkan penemuan ini dapat memberikan petunjuk tentang
struktur alam semesta dan bagaimana galaksi berkembang,” jelas peneliti.
Jika penemuan oleh astronom ini benar adanya, maka ini akan menggeser
galaksi XMMXCS J2215.9-1738 yang selama ini masih menjadi galaksi yang
terjauh dari Bumi.
Ditemukan, 11 Sistem Tata Surya Baru
Teleskop pemburu planet milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Kepler, berhasil menemukan 11 sistem tata surya baru yang menjadi 'rumah' bagi 26 planet. Salah satu dari tata surya ini memiliki lima planet yang mengorbit sangat dekat dengan bintang induknya, lebih dekat dibanding jarak planet Merkurius dengan Matahari di tata surya kita.
Ahli Astrofisika Indonesia Temukan Planet Tertua
Bintang induknya bernama HIP 11952. Sistem HIP 11952 merupakan sistem tata surya yang diketahui oleh para astronom sebagai tata surya generasi pertama. HIP 11952 juga menyandang julukan "Sannatana", kata dalam bahasa Sanskerta yang berarti abadi atau purba.
Planet Jenis Baru Punya Air Melimpah
Tahun 2009, astronom menemukan planet GJ 1214b. Planet itu berjarak 40 tahun cahaya (1 tahun cahaya setara dengan 9,5 triliun kilometer) dari Bumi serta memiliki diameter 2,7 kali Bumi dan massa 7 kali Bumi
Saat penemuan, ilmuwan mencatat bahwa GJ1214b adalah eksoplanet atau planet di luar tata surya kita pertama yang punya atmosfer. Lewat penelitian lanjut pada tahun 2010, astronom akhirnya juga mengetahui bahwa GJ1214b punya air.
Kini, misteri dunia baru ini semakin terkuak. Dengan menggunakan Wide Field Camera 3 Teleskop Antariksa Hubble, astronom menemukan bahwa GJ1214b ialah planet jenis baru.
"GJ1214b tidak seperti planet yang kita tahu. Sejumlah besar fraksi yang menyusunnya terdiri dari air," kata Zachary Berta dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics seperti dikutip situs Discovery, Selasa (21/2/2012).
GJ 1214b memiliki atmosfer yang kaya uap air. Hal ini diketahui berdasarkan analisis data teleskop Hubble, di mana spektrum GJ 1214b tampak dalam spektrum warna yang lebih luas.
Meskipun GJ 1214b kaya akan air, karakter eksoplanet ini berbeda dengan Bumi. Analisis massa jenis membuktikan, GJ 1214b punya air yang lebih banyak dan batuan yang lebih sedikit dari Bumi.
Massa jenis air adalah 1 g/cm3 dan massa jenis Bumi adalah 5,5 g/cm3. Dengan massa jenis 2 g/cm3, maka pasti GJ 1214b mayoritas tersusun oleh air. Diketahui, GJ 1214b mengorbit bintangnya setiap 38 jam pada jarak 2 juta kilometer. Astronom memprediksi, suhu planet ini adalah 239 derajat celsius.
"Temperatur dan tekanan yang tinggi akan membentuk material eksostis seperti 'es panas' atau 'air super cair', substansi yang tak dikenal dalam dunia kita," jelas Berta.
Berta berpendapat bahwa pada awalnya GJ 1214b terbentuk di wilayah jauh dari bintang induknya, di mana air dalam bentuk es begitu melimpah. GJ 1214b kemudian bermigrasi mendekati bintangnya sampai melewati zona layak huni di tata surya tersebut. Sampai saat ini, belum diketahui berapa lama proses tersebut berlangsung.
Berta berpendapat bahwa pada awalnya GJ 1214b terbentuk di wilayah jauh dari bintang induknya, di mana air dalam bentuk es begitu melimpah. GJ 1214b kemudian bermigrasi mendekati bintangnya sampai melewati zona layak huni di tata surya tersebut. Sampai saat ini, belum diketahui berapa lama proses tersebut berlangsung.
Astronom Temukan Supernova Baru
Supernova baru ditemukan di galaksi Meisser 95 (M95), jenis galaksi apiral yang terletak di konstelasi Leo.
Astronom yang bekerja di observatorium Crni Vrh, Slovenia, J Skvarc, adalah yang pertama mendeteksi supernova tersebut pada Sabtu (18/3/2012) lalu.
Awalnya, Skvarc melihat supernova tersebut sebagai bintik cahaya. Setelah membandingkan dengan tujuh arsip citra M95, Skvarc yakin bahwa bintik itu adalah supernova.
Skvarc melaporkan temuannya ke Central Bureau of Astronomical Telegram (CBAT). Selasa (21/3/2012) lalu, International Astronomy Union meresmikan temuan Skvarc sebagai supernova, dinamai SN 2012aw.
SN 2012aw unik karena jaraknya. Dengan jarak ke galaksi M95 yang hanya 37 juta tahun cahaya dari Bumi, supernova ini merupakan yang terdekat yang pernah diobservasi.
Supernova adalah ledakan bintang yang memancarkan energi. Peristiwa supernova menandai akhir kehidupan suatu bintang.
Kebanyakan supernova, karena terjadi di tempat sangat jauh, baru bisa dilihat saat terang maksimum. Namun, karena terjadi di jarak relatif dekat, SN 2012aw bisa memberi gambaran bagaimana supernova terjadi.
Ulisse Munari dari National Institute of Astrophysics di Italia, seperti dikutip National Geographic, Jumat (23/3/2012), mengatakan, "Astronom bisa menggunakan ini untuk menginvestigasi bagaimana awal ledakan terjadi di dalam struktur bintang."
Ditemukan, Dua 'Black Hole' Terbesar Sepanjang Sejarah

Sekelompok ahli astronomi dari beberapa Universitas di Amerika Serikat berhasil menemukan lubang hitam (black hole) terbesar sepanjang sejarah. Bukan hanya satu, tapi dua black hole. Masing-masing memiliki massa raksasa yang setara dengan 10 miliar matahari.
Sebelumnya, black hole terbesar yang pernah ditemukan dan bertahan hingga tiga dekade 'cuma' memiliki massa enam miliar matahari. Dua raksasa ini berjarak cukup jauh dari bumi. Yakni terletak di antara dua galaksi yang jaraknya 300 juta tahun cahaya.
Jarak jauh ini menguntungkan bagi kita warga bumi karena jika kita berada di dekatnya maka kita akan terhisap. Dari penemuan para ahli itu, dua black hole ini bisa menelan apa pun hingga yang lima kali lebih besar dari sistem tata surya kita. Black hole sendiri merupakan area di luar angkasa yang memiliki massa sedemikian besar sehingga tidak ada objek yang selamat dari gaya gravitasinya.
Dikatakan oleh James Graham, Direktur Universitas Toronto dari Institut Astronomi dan Astrofisika, jika penemuan ini lebih dari sekedar rekor baru di Guinness World Records. "Tapi (penemuan) ini juga menempatkan cerita yang lebih besar, bukan hanya soal galaksi kita tapi galaksi di seluruh jagad raya dan di seluruh waktu kosmik," demikian ujar Graham yang juga salah satu pendiri tim di balik penemuan ini, Senin (5/12).
Penemuan ini awalnya dipelopori para peneliti dari University of California. Tujuan awalnya hanya ingin mengumpulkan sejarah formasi galaksi dengan melihat hubungan antara galaksi dengan black hole.
Para ahli astronomi ini mengukur kekuatan gravitasi tiap black hole menggunakan teleksop. Makin kuat gravitasinya, makin besar black hole tersebut. "Ini sangat luar biasa. Mereka (2 black hole) bahkan lebih besar dari yang kami harapkan," kata Graham lagi. (Sumber: Toronto News)
Sebelumnya, black hole terbesar yang pernah ditemukan dan bertahan hingga tiga dekade 'cuma' memiliki massa enam miliar matahari. Dua raksasa ini berjarak cukup jauh dari bumi. Yakni terletak di antara dua galaksi yang jaraknya 300 juta tahun cahaya.
Jarak jauh ini menguntungkan bagi kita warga bumi karena jika kita berada di dekatnya maka kita akan terhisap. Dari penemuan para ahli itu, dua black hole ini bisa menelan apa pun hingga yang lima kali lebih besar dari sistem tata surya kita. Black hole sendiri merupakan area di luar angkasa yang memiliki massa sedemikian besar sehingga tidak ada objek yang selamat dari gaya gravitasinya.
Dikatakan oleh James Graham, Direktur Universitas Toronto dari Institut Astronomi dan Astrofisika, jika penemuan ini lebih dari sekedar rekor baru di Guinness World Records. "Tapi (penemuan) ini juga menempatkan cerita yang lebih besar, bukan hanya soal galaksi kita tapi galaksi di seluruh jagad raya dan di seluruh waktu kosmik," demikian ujar Graham yang juga salah satu pendiri tim di balik penemuan ini, Senin (5/12).
Penemuan ini awalnya dipelopori para peneliti dari University of California. Tujuan awalnya hanya ingin mengumpulkan sejarah formasi galaksi dengan melihat hubungan antara galaksi dengan black hole.
Para ahli astronomi ini mengukur kekuatan gravitasi tiap black hole menggunakan teleksop. Makin kuat gravitasinya, makin besar black hole tersebut. "Ini sangat luar biasa. Mereka (2 black hole) bahkan lebih besar dari yang kami harapkan," kata Graham lagi. (Sumber: Toronto News)
Temuan Baru Menantang Teori Pembentukan Bulan
"Menurut model yang berlaku tersebut, kira-kira setengah material yang membentuk Bulan berasal dari benda sebesar Mars yang menumbuk," kata Junjun Zhang, pakar geokimia isotop dari University of Chicago.
Namun, berdasarkan temuan terbaru Zhang yang dilakukan dengan menganalisis isotop titanium, material pembentuk Bulan, hanya didominasi oleh material yang ada di Bumi.
"Bulan memiliki komposisi titanium yang identik dengan Bumi," kata Zhang seperti dikutip New York Times, Senin (2/4/2012).
Untuk mendapatkan hasil tersebut, Zhang dan rekannya menganalisis sampel batuan Bulan yang diambil dalam misi Apollo pada tahun 1960-an dan 1970-an. Peneliti membandingkan sampel rasio isotop titanium di batuan Bulan dan Bumi.
Studi juga menemukan bahwa meteorit memiliki rentang isotop titanium yang lebih luas.
"Hal itu menunjukkan pada kita bahwa benda angkasa yang menghantam Bumi sepertinya tidak memiliki komposisi yang sama dengan Bumi," ungkap Zhang.
"Dengan demikian, model tumbukan besar yang berlaku sekarang mungkin perlu dikaji ulang," tambah Zhang.
Studi Zhang yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience pada 25 Maret 2012 lalu memang belum bisa menguraikan sejarah pembentukan Bulan dengan pasti. Walau demikian, kata Zhang, studi menunjukkan bahwa homogenitas isotop titanium berperan penting dalam evolusi Bulan dan Bumi.
"Kembaran" Tata Surya Ditemukan
Sistem dengan bintang induk HD 10180 menghebohkan dunia astronomi pada tahun 2010. Selain tata surya, sistem keplanetan itu menjadi yang terbesar karena memiliki tujuh planet. Kini, sistem keplanetan berjarak 127 tahun cahaya itu kembali menjadi perhatian. Jumlah planet yang mengorbit HD 10180 ternyata bukan hanya tujuh, melainkan sembilan.
Miko Tuomi dari University of Hertfordshire adalah astronom di balik penemuan ini. Ia memublikasikan hasil risetnya di jurnal Astronomy and Astrophysics, Jumat (6/4/2012). Tuomi menganalisis data hasil observasi instrumen High Accuracy Radial Velocity Planet Searcher pada teleskop 3,6 meter di Observatorium La Silla, Cile. Sebelumnya, pengamatan di European Southern Observatory menemukan enam planet ekstrasurya serta satu planet yang masih perlu dikonfirmasi keberadaannya. Lima planet merupakan planet serupa Neptunus dengan massa 12-25 kali massa Bumi. Sementara satu lagi adalah planet serupa Saturnus bermassa 65 kali Bumi dengan waktu revolusi 2200 hari. Selain meyakinkan adanya enam planet, penelitian Tuomi juga membuktikan adanya planet ketujuh yang bermassa 1,4 massa Bumi dan menemukan dua planet tambahan. Dua planet tambahan diketahui merupakan planet Bumi Super. Ukuran dua planet tersebut masing-masing 1,9 kali massa Bumi dan 5,1 kali massa Bumi. Planet ketujuh mengorbit HD 10180 dalam waktu hanya 1,2 hari Bumi. Dua planet tambahan yang ditemukan mengorbit dalam waktu 10 dan 68 hari Bumi. Dengan waktu orbit yang begitu singkat, dua planet tambahan yang ditemukan berjarak sangat dekat dengan bintangnya. Kondisinya sangat panas sehingga air dan kehidupan sulit untuk didapati.
Dengan jumlah sembilan planet, sistem keplanetan dengan bintang induk HD 10180 bisa disebut "kembaran" tata surya. Jumlah planet sama dengan jumlah planet di tata surya ditambah Pluto. Sistem keplanetan HD 10180 juga memiliki kesamaan lain dengan tata surya. Bintang HD 10180 sendiri merupakan bintang katai kuning, memiliki massa sebanding dengan Matahari.
Langganan:
Postingan (Atom)